Pengembangan nilai-nilai etika inti menyiratkan keyakinan
tentang apa saja sifat-sifat karakter dan bagaimana caranya menjadi pribadi
yang benar dan baik secara moral. Etika adalah aturan dasar yang digunakan
untuk memperoleh seluruh nilai-nilai yang lain. Seluruh keyakinan tentang apa
yang benar dan salah adalah nilai-nilai etika. Nilai etika inti bersifat
universal dan objektif. Nilai-nilai yang menyediakan standar-standar karakter
baik dan etika eksternal dan bersifat sepanjang masa. Nilai-nilai etika inti
menurut Thomas Lickona adalah nilai-nilai yang menjunjung tinggi hak azasi
manusia dan memperkokoh martabat manusia.[1]
Nilai-nilai yang berlaku berlaku secara universal di seluruh dunia. Nilai-nilai
inti menyuguhkan tanggung jawab sipil dalam alam demokrasi demikian juga
dipahami oleh pribadi-pribadi rasional dalam kebudayaan yang berbeda. Nilai-nilai
moral itu mencakup kejujuran dan tanggungjawab yang menjadi kewajiban dalam
bertindak sekalipun hal itu tidak kita inginkan.[2]
Secara universal nilai-nilai etika inti meliputi: kesalehan (piety), keterpercayaan (trustworthiness), hormat (respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring), dan kewarganegaraan (citizenship). Kesalehan berarti percaya kepada Tuhan
dan memiliki komitmen untuk melaksanakannya, yakni ibadah kepada Tuhan,
menghormati sesama manusia, dan melestarikan dan menjaga lingkungan sebagai
habitat hidup. Keterpercayaan berarti menjadi percaya pada dan atau percaya
dalam. Keterpercayaan meliputi sifat-sifat seperti integritas, keteguhan hati,
kejujuran, kebenaran, ketulusan hati, terus terang, andal, menepati janji, dan
loyalitas.[3]
Percaya adalah esensi bagi hubungan yang bermakna, abadi dan menghargai
pertemanan, dan perkumpulan (asosiasi) sukses di perguruan tinggi, dalam
aktivitas ekstra-kurikuler dan tempat kerja. Hormat memiliki makna yang setara
dengan menghargai semua orang, menghargai martabat, privasi, dan kebebasan
orang lain, santun, dan toleran atas perbedaan.[4]
Esensi hormat adalah menunjukkan kesungguhan dalam menghargai seseorang dan
diri sendiri. Memperlakukan orang dengan hormat berarti menghargai keamanan dan
kebahagiaan seseorang. Hormat bekerja sesuai dengan kaidah-kaidah luhur (the golden rule), memperlakukan
orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Tanggung jawab berarti
menjadi pribadi yang terhormat, melakukan tugas secara bertanggung jawab,
menjadi pribadi yang bertanggung jawab, melakukan tanggung jawab terbaik demi
keunggulan, dan berlatih mengendalikan diri.[5]
Tanggung jawab berarti kesadaran untuk melaksanakan hak dan kewajiban secara
seimbang, mengetahui apa yang dilakukan (dan yang tidak dilakukan), dan
akibat-akibat yang ditimbulkannya. Tanggung jawab secara literer berarti
“kemampuan menanggapi”. Tanggung jawab dimaknai tugas atau kewajiban positif kita.
Tanggung jawab memanggil kita untuk memenuhi komitmen, campur tangan ketika
diperlukan untuk menegakkan apa yang benar, dan membenahi apa yang salah.
Tanggung jawab menggambarkan tentang keandalan atau keterpercayaan, kemampuan
untuk melakukan tugas-tugas dan memenuhi kewajiban baik di rumah, di tempat
kerja, dan di lingkungan masyarakat atau komunitas. Seseorang dapat dinilai
bertanggung jawab jika ia dapat melakukan pekerjaannya bagi kelompoknya.
Terdapat tiga kategori tanggung jawab, yakni tanggung jawab yang berpusat pada
norma atau “tanggung jawab kolektif” (bertindak sesuai dengan nilai-nilai
kelompok tertentu), tanggung jawab empatik atau tanggung jawab personal
(digerakkan oleh penderitaan lain), dan tanggung jawab prinsipal atau tanggung
jawab sosial (komitmen terhadap etika universal).[6]
Adil berarti bersifat atau bersikap tidak memihak dan konsisten terhadap orang
lain, bersedia mendengar dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda, dan
mengikuti prosedur yang adil terhadap orang lain dalam situasi yang ada.[7]
Kepedulian adalah esensi dari nilai etika. Peduli terhadap nilai, terhadap
cinta, kehormatan, memiliki penghargaan tinggi dan berperhatian terhadap
makhluk lain, komunitas, kota, negara, dan dunia. Kepedulian, dan kebajikan
rasa kasih, berjasa, berbuat baik, mementingkan orang lain, kedermawanan, murah
hati, dan kebersamaan adalah esensi etika.[8]
Kewarganegaraan, dalam hal ini kewarganegaraan yang baik, berarti memiliki rasa
hormat terhadap hukum dan adat istiadat suatu negara, menghargai bendera dan
segala simbol, melakukan gotong-royong membantu komunitas, bermain sesuai
aturan masyarakat, dan menghargai figur penguasa dan representasinya.[9] Kewarganegaraan dimaknai sebagai tugas, hak,
perilaku dan tanggung jawab warga negara. Tidak satu pun dari nilai-nilai inti
itu dapat diajarkan secara terpisah, hanya dalam suatu kombinasi dan penyatuan
ke seluruh mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi dapat memberi hasil
positif. Oleh karenanya, suatu pendekatan sistem diperlukan untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar